Cerita Sukses

Saya suka dengan tema selalu ada jalan. Saya pernah menulis artikel tentang tema ini sebelumnya. Silahkan lihat dibawah. Pada kali ini saya akan cerita tentang sebuah studi kasus berkaitan dengan tema “selalu ada jalan”. Dari kisah pribadi.

Suatu saat, saya diultimatum oleh seseorang untuk mengembalikan uang investasinya dalam waktu 1 pekan (ceritanya panjang). Tidak terlalu besar, tetapi jumlahnya 2 kali lipat dari penghasilan bulanan saya. Bingung? Tentu saja, saya tidak memang uang sebesar itu. Tapi saya yakin dengan apa yang disebut “selalu ada jalan“.

Awalnya saya bingung. Saya berpikir keras untuk menemukan solusinya. Sampai saya teringat dengan apa yang saya tulis sendiri di eBook Beautiful Mind Power. Saya teringat tentang bagaimana cara kita berpikir sehingga kita bisa “mengalahkan ketidakmungkinan”. Selintas, adalah tidak mungkin mengembalikan uang sebesar itu, dengan bekerja keras saja, paling tidak memerlukan 2 bulan untuk membayarnya. Sementara harus ada dalam 1 pekan. Tapi saya yakin, selalu ada jalan.
Saya yakin selalu ada jalan

Pertama: saya hanya melihat ke depan. Jika saya melihat masa lalu, memang sebuah hal yang mustahil dan membuat pesimis. Masa lalu tidak mencerminkan masa depan. Jadi, saya melupakan masa lalu. Saya membersihkan pikiran saya dari kungkungan masa lalu. Saya hanya fokus bahwa saya bisa mendapatkan uang sebesar ini.

Kedua: saya serahkan semuanya kepada Allah. Dengan berdo’a dan berdzikir kalimat-kalimat penyerahan diri.

Ketiga: saya ikuti inspirasi yang muncul di pikiran saya. Saya yakin itu adalah pertolongan Allah. Saya ikuti, saya ambil tindakan dengan penuh determinasi.

Seminggu berlalu…. apakah saya berhasil? Alhamdulillah, meski tidak 100%, saya bisa menghasilkan uang melebihi penghasilan saya sebulan, dalam 1 pekan. Masih kurang memang, tetapi kekurangannya masih bisa dinegosiasikan. Alhamdulillah… selalu ada jalan.

Hikmah yang bisa petik: jangan pernah menyerah sebelum bertarung. Masa lalu kita, sama sekali tidak menggambarkan masa depan. Artinya, pencapaian kita di masa depan bisa melebihi apa yang pernah kita capai di masa lalu. Serahkan semua kepada Allah, take massive action untuk menjemput pertolongan Allah. Insya Allah, selalu ada jalan.
 Cerita sukses Ibu Muda Dengan Ide Simple

Salah seorang motivator menulis definisi sukses dalam bukunya sebagai sebuah perjalanan (success is a journey). Perjalanan sukses seseorang akan berarti jika ia melakukan yang terbaik apa pun yang ada dalam pekerjaannya.
Bagaimana jika pengertian sukses tersebut bisa diterapkan dalam berbisnis?. Semoga saja cerita sukses tiga Ibu muda bernama Dinar Esfandiary (34), Rani Silmy (34) dan Ira Karmawan (35) dalam merintis dan menjalankan bisnis patungan mereka bernama Simply Idea (SI) bisa jadi salah satu inspirasi pebisnis.
Awal bisnis tiga ibu muda ini terbilang unik. Perkenalan ketiganya terjadi di lingkungan sekolah taman kanak-kanak. Eit, bukan berarti mereka berasal dari satu sekolahan lho,  melainkan putra putri mereka tengah belajar di sekolah yang sama. Ceritanya, mereka yang sehari-hari beraktivitas mengantar dan menunggui putra putri bersekolah ini semakin akrab dengan pertemuan-pertemuan yang terjadi. Merasa cocok, keakraban ketiganya berlanjut dengan keinginan untuk mendirikan sebuah bisnis.
Ide bisnis mereka pada awalnya juga tak jauh dari dunia sehari-hari yang berhubungan dengan anak. Bisnis bedding dipilih, dengan produk seprai, bed cover dan lainnya pelengkap tempat tidur anak. Ciri khas produk yang ditawarkan adalah aplikasi dan bordir berbahan baku katun.
Dengan modal awal Rp5 juta, lika liku perjalanan bisnis pun di mulai. Namun menjalankan bisnis memang tak semulus yang dibayangkan. Sebagai pemula tentunya banyak sekali kekurangan yang dirasakan. Diantaranya mereka belum memiliki sumber daya memadai, seperti mesin jahit, dan juga penjahit yang pas, mereka pun tak kehilangan akal. Kawasan Mayestik ketika itu jadi tujuan mereka mencari tempat jahitan. Tak sengaja, mereka akhirnya bertemu dengan penjahit dan tukang bordir yang tengah mencari pekerjaan. Beruntung, hasil kerja penjahit sesuai dengan yang mereka inginkan.
Tidak mau tanggung-tanggung, ketiganya tak segan mulai memasarkan produk dengan sistem door to door. Target awalnya adalah orang-orang terdekat seperti keluarga dan teman-teman. Mereka tetap bersemangat jika pun produk belum diminati di satu tempat, produk tetap dijajakan di tempat yang lain. “Kami bawa dua boks, diturunin, lalu menunggu mereka (pelanggan,- Red) memilih produk. Kalau tidak sreg Kami jalan lagi ke teman yang lain. Pokoknya benar-benar penjual keliling,” ujar Dinar. Setelah dievaluasi, ternyata produk SI digemari oleh banyak teman dan kerabat.
Tak puas hanya dengan hasil tersebut, ketiganya semakin tertantang untuk lebih mengembangkan SI. Modal patungan kembali dikumpulkan untuk tujuan tersebut, berjumlah Rp50 juta. Modal tersebut habis digunakan untuk mengisi workshop, membeli mesin jahit dan mesin obras, membeli kain serta merekrut pegawai.
Berjalan dalam hitungan bulan, ketiganya kemudian berambisi menjual produk di departement store. Bukan perkara gampang memang. Tanpa pengetahuan sama sekali untuk memasok produk ke tempat tersebut, mereka pun mencoba mencari tahu ke sebuah departemen store ternama. Dari pertemuan dengan buyer, diketahui masih banyak yang harus dibenahi agar produk SI bisa dipajang di tempat tersebut. Contohnya kemasan, label, dan washing instruction.
Setelah diberi tenggang waktu satu bulan, mereka pun kembali mempresentasikan produknya. Kali ini produk dikemas lebih eksklusif dengan plastik lebih tebal, diberi kancing dan logo brand. Selangkah lebih maju, produk SI akhirnya bisa dijajakan pada masa-masa big sale di departement store tersebut. Jika tiga kali big sale ternyata produk diminati konsumen, baru lah produk diberi tempat untuk dijajakan setiap hari di tempat perbelanjaan tersebut. Itu pun diberi masa percobaan selama satu tahun. Jika mencapai target dilanjutkan, jika tidak, berhenti.
Tapi tentu saja jika hanya mengandalkan penjualan selama masa big sale terlalu banyak waktu terbuang percuma. “Workshop kosong bisa-bisa karyawan tidak gajian,” pikir mereka ketika itu. Akhirnya ketiganya memutuskan untuk mengikuti berbagai bazaar pada masa-masa lowong tersebut. Setahun menjalani berbagai bazaar, ternyata hasilnya memuaskan. SI telah memiliki 2 outlet di dua mall besar di Jakarta, dibantu 6 karyawan.